Sisi Pandang Lain

Memahami Sesuatu dari Perspektif yang Berbeda

Monday, November 24, 2014

NOVEL : Indahnya Patah Hati

 .......................Lain halnya dengan Nurma, dia yang berasal dari keluarga cukup berada dengan mudah akan terpenuhi keinginannya. Pak Sadi ayahanda Nurma punya usaha mebeler di belakang rumahnya, karyawannya cukup banyak, sekitar 10 orang.  Beliau juga punya cukup luas lahan sawah dan tegalan layaknya orang-orang kampung pada umumnya, sehingga bisa di bilang keluarga Nurma adalah berada di zona aman dalam hal financial (keuangan)..........


NOVEL : INDAHNYA PATAH HATI
Oleh : Saiful M.


1
Langit semakin gelap oleh mendung yang makin menebal, membuat Afif mempercepat laju motornya, namun karna mesin yang memang sudah tua tetap saja tidak bisa bergerak melebihi kecepatan 40 Km/jam.  Hatinya semakin was-was kalau-kalau hujan sudah terlebih dulu turun sebelum dia sampai di rumah, bukan karna takut tubuhnya diguyur dinginnya hujan, namun yang membuat kegelisahan hatinya adalah berkas-berkas penting yang dia bawa di dalam tasnya, tasnya terbuat dari bahan kain biasa, sudah tentu derasnya hujan akan dengan gampang menembus ke dalam.
“ Ya Allah, kenapa tadi tidak membawa jas hujan, padahal dalam beberapa hari terakhir ini sering turun hujan “ keluh Afif dalam hatinya.
Afif memang bukan siapa-siapa, dia hanya anak seorang petani biasa di sebuah desa di kaki gunung muria, namun hari ini dia akan menjadi orang yang menentukan nasib orang satu kabupaten.  Sudah hampir setahun dia bekerja menjadi pegawai outsourching (tenaga kontrak) di sebuah Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil sebagai pembantu bagian prin out (cetak ) data-data dan berkas-berkas kependudukan. Kalau saja berkas-berkas yang dibawanya sekarang sampai rusak karna hujan maka berantakanlah rencana Pemerintah Kabupaten mengajukan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) ke Pemerintah Pusat.
Rasa was-was seketika terlupakan saat Afif mendapati seseorang yang bersepeda tersorot lampu motornya yang tidak begitu terang sedang bergerak perlahan-lahan dengan arah yang sama dengannya. Begitu Afif sudah mendekat semakin jelaslah dia bahwa ternyata itu adalah seorang bapak tua pencari rumput yang pulang kemalaman.
Saat ini Afif tengah berada di tengah-tengah hutan jati milik Perum Perhutani yang membentang lebih dari 7 km sehingga dia tidak tega meninggalkan bapak tua itu sendirian mengayuh sepeda dalam kegelapan.  Afif tidak ingin sok menjadi pahlawan dengan memandu bapak itu keluar dari hutan ini,  namun naluri kemanusiaannya lah yang membuatnya memutuskan untuk membuntuti dan menerangi jalan bapak itu dengan lampu motornya, karna Afif berfikir tidak semua orang yang tengah lewat mau meluangkan waktunya untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Allah Maha Adil, Afif melakukan kebaikan seketika itu juga Dia membalasnya. Cukup lama Afif menemani bapak itu, selama itu pula Allah menunda turunnya hujan.
“ Matursuwun mas .. “ kata bapak tua yang baru saja dibantu Afif ketika hendak berbelok menuju rumahnya sesaat setelah berhenti karna sudah memasuki permukiman
“ Ya pak “ jawab Afif seraya membuka kaca helm dan sedikit menganggukkan kepala
            Begitu bapak tua itu berlalu Afif langsung menghentakkan kembali piston mesin motornya, selang sepuluh menit sampailah dia di istananya, istana tempat kelahirannya, yang sampai sekarang pun tidak pernah ada renovasi yang berarti.  Dua puluh satu tahun berlalu, rumah Afif masih berdindingkan batu bata merah, berlantaikan tanah, dan beratapkan genting tanah tipis, sehingga kalau turun hujan lebat air-air pun merembes turun membasahi seluruh isi rumah.
            Penghasilan Afif selama bekerja semenjak lulus SLTA dua tahun lalu belum cukup efektif membantu keuangan keluarganya, apalagi merenovasi rumah untuk orang tuanya. Itulah yang kadang membuat Afif merasa malu dengan orang tuanya karna belum bisa memberikan penghasilan yang cukup seperti teman-teman sekampung lainnya yang mendapat puluhan juta dengan merantau ke negeri jiran.
“ Kemana saja jam segini baru pulang ? “ tanya ibu Afif sedikit marah, yang memang sudah menjadi wataknya suka marah hanya karna hal-hal kecil
            “ Banyak kerjaan “ jawab Afif singkat, karna malas menanggapi ibunya yang sejak kecil membesarkannya dengan kasih sayang, hanya saja mungkin cara ibunya mengungkapkan kasih sayang agak berbeda dengan kebanyakan ibu-ibu lainnya. Dengan suka marah, ya dengan suka marah, yang meskipun bagi Afif sudah sangat terbiasa dengan omelan ibunya namun tetap saja membuatnya tidak nyaman, apalagi dengan kapasitas Afif yang sekarang bukan lagi sebagai anak kecil, namun sudah beranjak dewasa, yang sudah tidak sepatutnya lagi selalu mendapat omelan-omelan klasik ibunya, dia sudah berhak menetukan jalan hidupnya sendiri, terlepas kemarahan ibunya itu cukup beralasan dan mendasar, namun tetap saja, marah bukanlah cara yang efektif untuk mendidik anak.
            “ Huh, capeknya “ kata Afif dalam hati bersamaan dengan ia membanting tubuh letihnya di kasur kamarnya. Setelah beberapa saat Afif bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu untuk cepat-cepat sholat maghrib yang sebenarnya sudah agak telat untuk dilaksanakan karna kira-kira 10 menit lagi masuk waktu isya’.
            Suara gemercik air di belakang sudah terdengar, detak jarum jam dinding pun mulai memecah keheningan meskipun samara-samar, dedaunan yang tertiup angin pun semakin memunculkan suara mistisnya, pertanda hari sudah larut malam, namun Afif masih terus berjuang menyelesaikan pekerjaannya mengecek data-data hasil prin-outnya siang tadi sebelum dimasukkan / diburning ke dalam Compact Disk (CD) untuk kemudian disetorkan ke Pemerintah Provinsi oleh Kantor tempat dirinya bekerja. Hingga akhirnya tak kuat juga tubuh dan fikirannya dipaksakan begadang.
            Lewat jam 12 Afif akhirnya membereskan berkas-berkas dan memasukkannya ke dalam tas kemudian dia membaringkan tubuh di ranjang menunggu giliran malaikat tidur memanggilnya datang ke alam mimpi.
            Rasa kantuk yang sangat yang semula memaksanya berhenti bekerja kini malah perlahan-lahan menghilang, setengah jam mata Afif menatap langit-langit rumahnya belum juga dia bisa terlelap tidur, sore ini memang Afif tidak mandi sehinggan tubuhnya terasa gerah dan gatal-gatal, namun bukanlah hal itu yang membuatnya tak bisa memejamkan mata karna sudah terbiasa Afif tidak mandi setiap pulang terlalu petang.
            Bayangan si Nurma, gadis cantik dan manis yang sekarang mungkin tengah tertidur pulas di rumahnya yang hanya berjarak kira-kira 150 meter ke arah utara rumah Afif, ternyata itulah yang tiba-tiba muncul dalam fikiran Afif. Nurma yang sejak kecil hidup sebagai tetangga dan teman sepermainannya kini perlahan-lahan menjelma menjadi sosok gadis pujaan hatinya. Entah sejak kapan rasa cinta itu mulai muncul, yang jelas detik ini Afif benar-benar merasa cinta dengan tetangga yang usianya 1 bulan lebih muda darinya itu.

****


            “ Met malam and met istirahat, moga mimpi indah “ begitu kata-kata terakhir yang diketik nurma di layar HPnya untuk dikirimkan ke Doni, kenalan barunya. Ternyata gadis itu pun saat ini belum tidur, tapi tidak sama dengan Afif yang sedang melamunkan dirinya, malahan Nurma sedang asyik SMSan dengan cowok lain sampai-sampai tidak sadar kalau sekarang sudah bukan malam hari lagi, melainkan sudah dini hari.
            Nurma yang sekarang baru saja memasuki semester 2 di Akademi Keperawatan memang tergolong gadis yang luas pergaulannya. Dengan anugrah dari Tuhan berupa fisik yang menarik adalah menjadi faktor utama dia banyak dikenal dan dipuja pria remaja dan dewasa yang ada di lingkup pergaulannya.
            “ Ke mana Nur ? “ tanya Afif dengan suara agak keras ketika melihat Nurma melewati depan rumahnya di pagi hari
            “ Ke rumah temen “ jawab Nurma tanpa berhenti namun hanya sedikit memperlambat laju motor matic warna pink kesayangannya.
            Dari sekian banyak cowok di kampungnya hanya kepada Afif lah Nurma masih mau bersikap agak hangat dan respect, karna selain Afif selalu bersikap sopan dan baik sesungguhnya mereka berdua punya kedekatan di masa lalu, yakni ketika mereka berdua masih sama-sama duduk di bangku SD dan SMP. Sejak SD sampai lulus SMP Afif dan Nurma memang sudah seperti saudara sendiri, mereka selalu terlihat berdua baik di sekolah maupun ketika bermain seusai sekolah. Di sekolah Afif dan Nurma tergolong siswa yang cerdas dan pintar, tidak nakal, lebih suka menghabiskan waktu istirahat untuk membaca di perpustakaan ketimbang bermain seperti anak-anak yang lainnya. Hal itulah yang membuat mereka merasa cocok, saling tukar pikiran bersama soal pelajaran terkadang juga soal masalah pribadi mereka, seputar pergaulan dengan teman-teman yang lain tentunya, karna anak seusia mereka tentu belum memiliki masalah pribadi yang terlalu kompleks seperti orang dewasa.
            Hingga pada akhirnya kebersamaan dan kedekatan itu harus berakhir ketika mereka sama-sama telah lulus dari SMP. Afif yang hanya berasal dari keluarga petani tentu tidak memiliki cukup biaya untuk melanjutkan studi di SLTA ternama di kota, lebih-lebih orang tua Afif saat itu juga tidak mepunyai sepeda motor untuk dipakai Afif pulang pergi sekolah, mau ngekos apalagi, biayanya malah jauh lebih mahal.  Terpaksa mau tidak mau dia harus memutuskan melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah di kampungnya sendiri.
            “ Sekolah di manapun itu sama Fif, memang fasilitas dan kwalitas guru berbeda, namun dasar pelajarannya kan sama, buku yang dipakai juga sama kok, yang paling menentukan adalah kesungguhan muridnya dalam mencari ilmu, kalau kamu sekolah di desa kamu kan malah masih tetap bisa bantu orang tua kamu, bantu cari rumput atau kayu bakar “ begitu salah seorang ustadz yang juga tetangga dekat Afif menasehatinya karna telah mendengar dari bapak Afif bahwa sebenarnya Afif ingin sekali melanjutkan ke sekolah yang ternama.
            Lain halnya dengan Nurma, dia yang berasal dari keluarga cukup berada dengan mudah akan terpenuhi keinginannya. Pak Sadi ayahanda Nurma punya usaha mebeler di belakang rumahnya, karyawannya cukup banyak, sekitar 10 orang.  Beliau juga punya cukup luas lahan sawah dan tegalan layaknya orang-orang kampung pada umumnya, sehingga bisa di bilang keluarga Nurma adalah berada di zona aman dalam hal financial (keuangan).
            Nurma langsung mendaftar ke SMA Negeri favorit ketika telah mendapat pengumuman lulus. Kebetulan dia mempunyai saudara di kota sehingga dia lebih memilih tinggal bersama saudara ayahnyanya, hanya sesekali pulang dalam sebulan. Semenjak itulah Afif terputus kontak dengan Nurma.
            Masa SMA adalah masa pubertas yang sangat dominan menentukan perubahan dan pembentukan karakter seorang remaja, termasuk Nurma, dia tidak terlepas juga dari fase ini. Karna terpengaruh dengan kehidupan kota dan khususnya gaya hidup yang elit dari pergaulan teman-temannya di lingkungan sekolah maupun di luar perlahan-lahan telah menggeser dan menggoyahkan kepribadian Nurma, dari yang semula anak yang rajin dan tidak banyak tingkah menjadi anak yang kurang berkosentrasi dengan belajarnya, sering suka pergi dengan teman-temanya untuk urusan yang tidak penting, dan selalu update mode pakaian dan aksesoris. Untunglah pamannya sang pemilik rumah masih agak kontrol sehingga keponakannya yang mulai tumbuh menjadi gadis cantik itu tidak terlalu terjerumus ke pergaulan yang negatif.
            Genap 3 tahun telah cukup membuat Nurma bermetamorfosa, Nurma menjadi lebih borjuis (selera tinggi dan pilih-pilih dalam mencari teman), hingga kebiasaan-kebiasaan yang terlalu lama dilakukan itu telah mengendap menjadi sifat. Nurma menjadi acuh terhadap kehidupan di desa dan teman-teman sepermainannya dulu, lebih-lebih ketika ia telah memasuki perguruan tinggi, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pergaulan elitnya ketimbang bersosialisasi di lingkungannya.
            Semenjak itulah Nurma seperti menjadi orang asing di desanya sendiri, sebenarnya tidak ada satupun orang yang menganggapnya asing, namun Nurma sendirilah yang menganggap orang-orang yang ada di sekitarnya tidak penting, dia merasa tidak butuh dengan siapapun kecuali keluarganya saja.
           
****


            ” Mas Afif ”  panggil pak Bambang, seorang wakil kepala di kantor tempat Afif bekerja
            ” Ya pak ” jawab Afif seraya mendekat ke tempat pak Bambang duduk membaca selembar surat.
            ” Ini ada surat dari Akper Bina Utama, mereka meminta bantuan sama Kantor kita untuk memberikan informasi data-data penduduk yang mendapat Jamkesda. Nanti tolong mas Afif bantu tunjukkan ya kalau ada mahasiswa yang datang ke sini, dalam surat ini rencananya 2 minggu lagi perwakilan dari Akper datang ke sini ”
            ” Oh ya pak, besok akan saya mulai siapkan data-datanya ”
            ” Ya terima kasih mas, silahkan lanjutkan perkerjaannya ”
            ” Ya pak ” jawab Afif seraya kembali ke ruang belakang melanjutkan pekerjaannya.
            Afif yang kapasitasnya hanyalah sebagai tenaga kontrak atau dalam bahasa kasarnya sebagai jongos memang tergolong pekerja yang rajin, meskipun dia sadar kalau upah yang dia terima terlalu kecil bila dibandingkan dengan tanggung jawab dan tenaga yang ia curahkan untuk kantor itu. Dia adalah seorang remaja yang punya visi ke depan, tidak melihat sesuatu dari yang tampak sekarang, namun dia bisa membaca apa yang bakal bisa ia dapatkan kelak dari apa yang dia lakukan hari ini. Hari ini memang dia tidak mendapatkan apa-apa, hanya beberapa ratus ribu saya setiap bulannya, berbeda dengan teman-temannya yang mendapatkan jutaan dalam pekerjaannya, hamun dia yakin dan tahu bila suatu hari nanti dia akan merasakan manfaatnya, setiap hari dia bergaul dengan orang-orang pintar, sedikit banyak dia pasti akan kecipratan kepintaran itu, itulah semangat yang selalu ia tanamkan dalam hati untuk tetap terus bisa bertahan di kantor itu. Dia faham kalau investasi bukan hanya berupa materi, namun juga bisa berupa pola pikir, skill, dan juga relasi.
            Tak terasa jarum jam telah menunjuk ke angka 4, semua pegawai kantor baru saja meninggalkan parkiran dengan kendaraan mereka masing-masing, kini hanya tertinggal Afif yang masih berada di kantor, Afif memang selalu mendapat jatah pulang paling terakhir, bahkan lebih akhir daripada tukang kebun kantor itu sendiri, ia harus membereskan semua berkas-berkas yang ada yang belum sempat disimpan oleh pegawai di sini, karna memang untuk tugas seperti itulah Afif dibayar.  Sesaat sebelum keluar lewat pintu belakang tiba-tiba mata Afif melihat setitik cahaya merah di bawah meja di sudut ruang yang ternyata itu adalah lampu stavolt, pertanda bahwa ada salah satu komputer yang lupa belum dimatikan.
            Afif bergegas ingin menghampirinya karna dia juga ingin cepat-cepat pulang, namun begitu dia menghadap ke layar komputer dia tertegun sesaat ketika di hadapannya ada berpuluh-puluh foto gadis cantik dengan berbagai gaya. Dia lirik ke samping kanan bawah, ternyata benar bahwa foto-foto itu berasal dari flashdisk yang masih tercolok.
            ” Wah cantik juga ternyata ceweknya mas Irfan ” gumam Afif dalam hati. Afif berfikir demikian karna Afif yakin itu adalah flashdisk milik mas Irfan, satu-satunya pegawai yang masih muda di kantor ini, usianya sekitar 25 tahunan. Dialah yang selama ini banyak membimbing dan memberi nasehat kepada Afif. Dengan usianya yang sudah matang dan kehidupannya yang sangat mapan sebagai seorang PNS ternyata tidak juga membuatnya cepat-cepat ingin menikah.
            Biasanya Afif langsung meluncur ke rumah sepulang dari bekerja, namun sore ini ia punya keinginan untuk sekedar memanjakan perutnya di sebuah rumah makan kecil yang setiap hari ia lewati namun tak pernah sekalipun ia memasukinya. Setelah mampir sebentar ke masjid untuk sholat dan sekedar mencuci mukanya yang kusut Afif langsung menuju ke tempat tujuannnya tadi.
            ” Eh, Nurma ” panggil Afif pelan ketika matanya tiba-tiba menangkap sosok gadis yang sangat ia kenal duduk termangu sendiri di sebuah meja bernomor 22.  ” Kok sendirian Nur ” tanya Afif lagi sambil berhenti dan berdiri di dekat meja Nurma.
            ” Masih nunggu temen fif ” jawab Nurma dengan raut wajah tidak terlalu respect dengan kemunculan Afif, mungkin karna dia jenuh terlalu lama menunggu kehadiran seseorang yang dia maksud tadi.
            ” O ya udah, aku kesana dulu ya ” jawab Afif dengan dingin juga sambil berlalu mencari meja yang paling jauh dengan Nurma. Entah mengapa hati Afif tiba-tiba tersulut rasa cemburu meskipun belum tentu Nurma saat ini sedang menunggu teman laki-laki atau bahkan cowoknya.
            Ternyata benar memang, bersamaan dengan datangnya makanan dan minuman ke meja Afif datang juga seorang cowok menghampiri Nurma. Sore hari yang diharapkan Afif menjadi indah dengan ditemani sajian bergengsi kini menjadi sore yang kelam. Lezatnya makanan ala eropa terasa mati di lidahnya karna rasa pahit di hatinya terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak kuat juga Afif berlama-lama menyaksikan sepasang muda-mudi yang terlihat mengobrol mesra itu. Afif meninggalkan makanannya yang belum habis. Afif keluar lewat pintu lain sengaja tak ingin melihat kemesraan mereka dari dekat karna hanya akan membuatnya semakin sakit hati.
            Semenjak kejadian tadi perasaan Afif menjadi sangat galau, sesampai di rumah ia pun langsung masuk kamar dan mungkin tidak keluar karna tertidur sampai pagi kalau saja Tia adik perempuannya tidak memanggilnya meminta uang.
            ” Kak,  minta uang dua ribu dong untuk beli pensil ” rengek Tia kepada kakak kesayangannya.
            ” Ya dek, ambil sendiri tu di dompet kakak di atas meja ” sahut Afif tanpa melihat adiknya, masih seperti pertama kali masuk kamar, telungkup di atas ranjang.
            ” Gak ada dua ribuan kak, aku bawa lima ribu ya, nanti kembaliannya aku kasih kakak ”
            ” Ya. ” jawab Afif singkat
            Tia adalah anak ke dua dari pasangan bapak Trimo dan ibu Aminah, yakni bapak dan ibu Afif. Karna memang Tia lah satu-satunya saudara yang Afif miliki sehingga membuat Afif sangat sayang dengan adik perempuannya yang sekarang masih duduk di kelas 4 SD itu. Selain cantik dan manis, Tia adalah anak yang sangat rajin, selalu mendapat prestasi di sekolahnya, tidak pernah nakal mengambil uang ibu atau kakaknya tanpa ijin terlebih dahulu.
            Afif yang tersadar dari lamunan oleh adiknya tadi menengok jam yang ada di HPnya, ia paksakan bangun juga akhirnya, tak sadar sudah lewat jam 18.00, rupanya Afif benar-benar terlarut dalam lamunan kesedihan sampai-sampai gema adzan maghrib pun tak terdengar olehnya.
            ” Sudah sholat belum Fif ? ” tanya ibunya yang baru saja pulang dari mushola dekat rumah masih mengenakan rukuhnya
            ” Belum, mau mandi dulu ” jawab Afif mencoba langsung berusaha menghindari ibunya, karna tidak mau ibunya mengomel
            ” Jam segini belum sholat !, tahu sendiri maghrib waktunya pendek, kerja dibela-belain pulang malam sholatnya gak diperhatiin” omel ibu persis seperti yang Afif prekdisikan.
            Seusai sholat Afif langsung keluar rumah hendak mencari ketenangan hati sekedar duduk-duduk ngobrol di counter HP pinggir jalan tempat biasa dia membeli pulsa atau sekedar mengobrol, namun ada dorongan dalam hatinya untuk menuntaskan sesuatu yang masih saja berkecamuk di dalam hatinya.
            Dengan langkah pasti Afif memutar arahnya 180 derajat yang semula ingin menuju ke selatan kini ganti menuju ke utara, ke arah rumah Nurma. Afif juga tidak tahu apa yang nanti mesti ia katakan, apa alasannya tiba-tiba mencari Nurma, namun gejolak di hatinya sudah tak sanggup lagi membendung rasa cinta yang kini telah berubah menjadi luka.
            Satu beban Afif hilang ketika sosok Nurma terlihat sudah berada di teras depan rumah sehingga Afif tak perlu mengetuk pintu dan bertemu dengan sang bapak, yang tentu akan membuatnya semakin sungkan. Langsung saja Afif menuju ke arah Nurma yang sedang sibuk sendiri dengan HPnya.
            ”Assalamu’alaikum..” Afif membuka keheningan.
            ” Wa’alaikum salam.. ” jawab Nurma sedikit kaget dengan kedatangan sahabat lamanya yang tiba-tiba.
            ” Ada perlu apa Fif ? ”
            ” Ada perlu sedikit ” jawab Afif sedikit kecewa dengan pertanyaan Nurma yang tampak tak mengharapkan kedatangannya. Sebenarnya mood (suasana hati) Afif sudah sangat tidak bagus untuk meneruskan keberadaannya di sini lagi, namun ia harus sedikit menahan dan menelan perasaan pahit untuk menuntaskan masalahya malam ini juga.
            ” Bentar ya aku panggilin ayah ” Nurma bangkit dari kursi kayu berukir yang tertata melingkar di teras yang lumayan luas, lebih mirip ruang tamu.
            ” Eh nggak usah Nur, aku mau ketemu kamu kok ” Afif mencegah Nurma yang sudah hampir membalikkan badan untuk memanggil ayahnya di dalam rumah.
            ” Oh, kirain nyari ayah.., duduk Fif  ”
            ” Iya, makasih, aku nggak mengganggu kan ? ” tanya Afif masih sedikit sungkan
            ” Iya..., nggak apa-apa, emm... ngomong-ngomong ada perlu apa ya Fif ? ”  lagi-lagi sebuah pertanyaan yang terasan sangat janggal terlontar dari bibir indah Nurma. Pertanyaan yang sebenarnya kurang pantas ditujukan kepada seseorang yang pernah sangat dekat dengannya, seolah-olah kebersamaan dan kenangan mereka berdua beberapa tahun lalu sudah benar-benar terhapus dan tak berarti buat seorang Nurma.
            ” Pengen ngobrol-ngobrol aja sama kamu, ada waktu kan ? ”
            ” Emm, ada sih.. ”
            ” Lama banget ya kita nggak ngobrol berdua ” Afif mencoba berbasa-basi sambil memandang wajah Nurma yang tampak tidak polos lagi seperti dulu.
            ” Em, iya ” jawab Nurma begitu singkat, tidak begitu menanggapi obrolan yang baru saja dibuka oleh Afif, malahan lebih menanggapi obrolan di dunia maya, yakni SMS. Entah dengan siapa dia sedang SMSan, namun yang jelas dia cepat-cepat menatap layar HPnya ketika ada bunyi SMS masuk.
            ” Hai.., kok malah ditinggal SMSan sih ” kata Afif dengan sedikit senyum dibibirnya, padahal dalam hati mungkin meringis sakit.
            ” Oh ya, sory ya, gimana tadi Fif ? ” Nurma mencoba memperbaiki suasana dengan lebih fokus ke Afif
            ” Emm gak apa-apa ” jawab Afif datar.....

BERSAMBUNG .......................
           
           
           
           
             
           


           
           

           
           


No comments:

Post a Comment