Sisi Pandang Lain

Memahami Sesuatu dari Perspektif yang Berbeda

Thursday, November 6, 2014

MAKALAH BAHASA INDONESIA MINIMNYA MINAT PELAJAR MENGGUNAKAN BAHASA BAKU YANG BAIK DAN BENAR


Bahasa baku merupakan bahasa yang sesuai dengan EYD.  Kita sebagai pelajar seekaligus warga Negara Indonesia harus bangga menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.  Tapi kenyataannya di negara kita banyak pelajar yang kurang memahami arti arti bahasa baku, sehingga pelajar kurang berminat untuk menggunakannya, itu terlihat dari keseharian mereka yang senang menggunakan bahasa gaul daripada bahasa baku.

MINIMNYA MINAT PELAJAR MENGGUNAKAN BAHASA BAKU YANG BAIK DAN BENAR
M A K A L A H

Disusun Guna Melengkapi Tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Akhir Semester
Guru Pembimbing :
........................................

 











Disusun Oleh :
ARIK SETIANI
Kelas XI


MADRASAH ALIYAH ....................................
LAHAR – TLOGOWUNGU PATI      
Tahun Pelajaran .............................









KATA PENGANTAR


Asslamu’alaikum Wr. Wb.

Bissmillahirrohmanirrohim

            Puj syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat berkat rahmat, taufiq    dan    hidayah-Nya,  penulis    dapat   menyelesaikan   makalah   yang  berjudul  ” Minimnya Minat Pelajar Menggunakan Bahasa Baku Yang Baik dan Benar guna memenuh tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

            Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah untuk junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Beserta keluarga dan sahabatnya hingga akhir zaman, dengan diiringi upaya meneladani akhlaknya yang mulia.

            Pada kesempatan ini, penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, yaitu :

1.      ..................................................................
2.      ..................................................................
3.    ..................................................................
4.      Pihak-pihak lain yang tidak bisa disebtkan satu persatu.

            Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis mohon dari para pembaca.

            Akhirnya, penulis berharap semoga keberadaan makalah ini dapat bermanfaat.

Wabillahi taufik walhidayah

            Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


..............................................

Penulis













DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………….. i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………... ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………  iii

PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang  …………………………………………………………………...    1
  2. Rumusan Masalah  ………………………………………………………………..   1
  3. Manfaat Penulisan ………………………..……………………………………….  1

PEMBAHASAN
  1. Bahasa Indonesia Baku  …..……………………………………………………...          2
1.    Keberagaman Dalam Penggunaan Bahasa Indonesia (Tidak Baku)
2.    Pengertian Bahasa Baku …………………………………………………….
3.    Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar ………………………..
-            Bahasa Indonesia yang Indah …………………….
-            Bahasa Indonesia yang Benar …………………………………….
  1. Minimnya Penggunaan Bahasa Baku …….…………..…………………..….....    5
  2. Menanamkan   Minat   Penggunaan   Bahasa   Baku   Pada   Generasi  
Muda  (Pelajar) …………………………………………………………….….…             6

Kesimpulan ……………………………………………………………………………… 8

DAFTAR PUSTAKA





















BAB I
PENDAHULUAN



A.    LATAR BELAKANG

            Bahasa baku merupakan bahasa yang sesuai dengan EYD.  Kita sebagai pelajar seekaligus warga Negara Indonesia harus bangga menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.  Tapi kenyataannya di negara kita banyak pelajar yang kurang memahami arti arti bahasa baku, sehingga pelajar kurang berminat untuk menggunakannya, itu terlihat dari keseharian mereka yang senang menggunakan bahasa gaul daripada bahasa baku.

            Memang tidak bisa dipaksakan pelajar harus menggunakan bahasa baku dalam kesehariannya di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi, karena mereka lebih senang menggunakan bahasa daerah mereka masing - masing.

            Sebagai bahasa nasional dan bahasa mereka ( Negara ), usia bahasa Indonesia sudah lebih separuh abad.  Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia  dalam  rentan  usia  tersebut  mestinya  sudah mampu mencapai tingkat “ kematangan “  dan  “ kesempurnaan “  hidup,  sebab sudah banyak merasakan liku - liku dan pahit getirnya perjalanan sejarah. Namun seiring bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah, pertanyaan bernada pesimispun bermunculan.

                          

B.     RUMUSAN MASALAH

            Dari latar belakang permasalahan di atas, kelompok kami akan berusaha mengemukakan permasalahan sebagai berikut :

1.      Apakah bahasa baku itu ?
2.      Apakah  penyebab  kurangnya  minat  pelajar  dalam  menggunakan  bahasa baku ?
3.      Bagaimana upaya untuk meningkatkan minat pelajar menggunakan bahasa baku  ?
            Dengan adanya pembatasan makalah ini, penulis berharap agar permasalahan akan dapat dibahas dengan detail.


C.    TUJUAN  PENULISAN

            Agar kita lebih memahami apa itu bahasa baku dan mengetahui sebab - sebab mengapa para generasi muda pada umumnya dan di kalangan pelajar pada khususnya kurang berminat menggunakan bahasa baku, serta mengetahui bagaimana cara meningkatkan minat penggunaan bahasa baku di kalangan pelajar.







BAB II
PEMBAHASAN




  1. BAHASA INDONESIA BAKU

a.      Keberagaman Dalam Penggunaan Bahasa Indonesia (Tidak Baku)

           Sebagai bahasa yang hidup, bahasa Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan masyarakat pemakainya. Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia dan keanekaragaman penuturnya serta cepatnya perkembangan masyarakat telah mendorong berkembangnya berbagai ragam bahasa Indonesia dewasa ini. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat penutur yang berbeda latar belakangnya baik dari segi geografis maupun dari segi sosial menyebabkan munculnya berbagai ragam kedaerahan ( ragam regional ) dan sejumlah ragam sosial.  Untuk itu perlu direkonstruksi kembali agar penggunaan bahasa Indonesia yang baku menemukan kembali bentuknya setelah terkontaminasi seiring bergulirnya waktu.  Dalam hal ini perlu kita kenali lebih lanjut apa itu bahasa yang baku, karena dewasa ini penggunaan bahasa yang tidak baku telah menginterferensi bahasa Indonesia, bukan hanya dalam percakapan sehari - hari melainkan telah merambah ke media - media masa baik cetak maupun elektronik, yang seharusnya melalui wahana ini bahasa Indonesia yang notabene adalah bahasa persatuan dijadikan sebagai unsur utama. Bahkan yang lebih ironis lagi adalah ada pejabat ataupun orang - orang penting di negeri ini yang berbicara menggunakan bahasa yang jelas - jelas tidak baku di depan di saran televisi dan disaksikan oleh jutaan penduduk Indonesia, lalu siapa lagi yang akan diharapkan bisa mendidik para generasi muda tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baku kalau bukan dimulai dari diri kita sendiri.


b.      Pengertian Bahasa Baku

           Bahasa baku adalah bahasa yg dijadikan norma pemakaian bahasa yang benar. Kaidah standar bahasa baku ada tiga yaitu : EYD, Tata Bahasa Baku dan Kamus Umum.

Pembakuan bahasa mencakup 3 hal :

    1. Pengucapan
Pembakuan bahasa lisan lebih sulit daripada tulisan, sebab dalam bahasa lisan banyak Terpengaruh bahasa asing / daerah
Contoh :
Kalau kita meminta seseorang mengambilkan sesuatu, dalam kehidupan sehari -hari kita akan mengatakan " Tolong ambilin...",  padahal seharusnya " Tolong ambilkan..."

    1. Penulisan
Pembakuan bahasa tulis dapat dibantu dengan KBBI & EYD, jadi tidak terlalu sulit.

    1. Struktur
Yang dimaksud dengan struktur adalah susunan atau urutan.
Contoh :
Saya akan mendidik itu anak agar mengenal disiplin. Seharusnya : Saya akan mendidik anak itu agar mengenal disiplin.

Ciri - ciri  bahasa  baku
a)      Tidak dipengaruhi bahasa daerah.
            Tidak baku      :  ape, bokap, nggak
            Baku                :  apa, bapak, tidak

b)      Bukan merupakan bahasa percakapan.
                                    Tidak baku      :  Kenapa, ntar
                                    Baku                :  Mengapa, nanti

c)      Pemakaian imbuhan secara eksplisit.
                                    Tidak baku      :  Ia kerja keras
                                    Baku                :  Ia bekerja keras

d)     Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat.
                                    Tidak baku      :  lebih besar dari
                                    Baku                :  lebih besar daripada

e)      Tidak rancu
                                    Tidak baku      : barusan
                                    Baku                : baru saja

f)       Tidak mengandung makna berlebihan.
                                    Tidak baku      : para hadirin, zaman dahulu kala
                                    Baku                : hadirin, zaman dahulu



g)      Tidak berlebihan dalam kesalahan penulisan
                                    Tidak baku      : insyaf, syaraf,ahir
                                    Baku                : insaf, saraf, akhir

h)      Sesuai kaidah kebahasaan.
                              Tidak baku      : Disekolah, di ambil
                              Baku                : Di sekolah, diambil

Dan inilah contoh - contoh kata TIDAK BAKU lainnya:
Apotik                   Ijin                   Ijasah               Atlit
Silahkan                Sepedah          Jaman              Nopember
Dirubah                 Hipotesa          Analisa            Diagnosa
Jum'at                    Aktifitas          Kreatifitas       Mamah

dan masih banyak lagi.

Sedangkan kata-kata BAKU:
Apotek                  Izin                  Ijazah              Atlet
Silakan                  Sepeda                        Zaman             November
Dirubah                 Hipotesis         Analisis           Diagnosis
Jumat                     Aktivitas         Kreativitas       Mama


c.       Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

           Kurangnya pemahaman terhadap variasi pemakaian bahasa berimbas pada kesalahan penerapan berbahasa. Secara umum dan nyata perlu adanya kesesuaian antara bahasa yang dipakai dengan tempat berbahasa.  Tolok ukur variasi pemakaian bahasa adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan parameter situasi.  Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dan sesuai dengan kaidah - kaidah bahasa Indonesia (Sugono, 1994 : 8)

1.      Bahasa Indonesia yang baik
            Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan noma kemsyarakatan yang berlaku. Misalnya dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu terikat pada patokan.  Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu memperhatikan norma bahasa.

2.      Bahasa Indonesia yang benar
            Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraph, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditatati secara konssiten, pemakaian bahasa dikatakan secara benar.  Sebaliknya jika kaidah - kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa itu dianggap tidak benar atau tidak baku. Hymes (1974) dalam Chaer (1994:63) mngatakan bahwa suatu komunikasi dangan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
a)      Seetting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan      waktu terjadinya percakapan.  Contohnya, percakapan yang terjadi di       kantin sekolah pada waktu istirahat tentu berbeda dengan yang terjadi         di kelas ketika pelajaran berlangsung
b)      Particpant, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.    Contohnya : antara karyawan dengan pimpinan.  Percakapan antara       karyawan dan pimpinan ini tentu berbeda kalau partisipannya bukan karyawan dan pimpinan, melankan antara karyawan dengan karyawan.
c)      Ends,  yaitu maksud dan hasil percakapan.  Misalnya, seorang guru       bertujuan menerangkan pelajaran bahasa Indonesia secara menarik,          tetapi hasilnya sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak         berminat dengan pelajaran bahasa.
d)     Act Sequences,  yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dari isi    percakapan. Misalnya dalam kalimat :
1.      Sinta berkata dalam hati, “Semoga aku diterima  di pergurua tinggi negeri “.
2.      Sinta berkata dalam hati, semoga dia diterima di prguruan tinggi negeri.
Perkataan “semoga aku diterima di perguruan tinggi negeri” pada kalimat (1) adalah bentuk percakapan, sedangkan kalimat (2) adalah contoh isi percakapan.

e)      Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam malaksanakan       percakapan.
f)       Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah    secara lisan atau bukan.
g)      Norm, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
h)      Genres,  yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang     digunakan 

  1. MINIMNYA PENGGUNAAN BAHASA BAKU

            Penggunaan bahasa tidak baku sudah tidak bisa lagi dibendung keberadaannya.  Mulai dari media sebagai tonggak pengarah masyarakat,  apa yang diungkap media itulah yang akan diikuti masyarakat, terutama masalah kebahasaannya yang sering kali memakai bahasa asing ataupun bahasa gaul untuk menarik perhatian masa agar tertarik pada apa yang ditawarkan media tersebut.

            Pada kenyataannya hanya sebagian saja dari seluruh orang Indonesia yang peduli dengan hidup matinya bahasa Indonesia, terlebih lagi penggunaan bahasa yang baku. Sebagiannya lagi memilih tidak peduli. Sebagai warga negara Indonesia, kita selayaknyalah peduli dengan kehidupan dan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

            Dewasa ini, pemakaian bahasa Indonesia yang baku baik dalam kehidupan nyata maupun dalam dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Dengan memakai bahasa gaul tersebut, pemakainya akan dikatakan sebagai orang kota yang modern dan bukan orang daerah yang kurang modern. Anggapan seperti ini jelas salah karena bahasa gaul tersebut sebenarnya sangat dekat dengan bahasa Betawi yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia. Antara bahasa Indonesia dan bahasa gaul tentunya lebih modern dan lebih maju bahasa Indonesia. Hal ini karena bahasa Indonesia merupakan bahasa tingkat nasional yang berasal dari bahasa-bahasa daerah di Indonesia dan bahasa asing.

           
  1. MENANAMKAN MINAT PENGGUNAAN BAHASA BAKU PADA GENERASI MUDA ( PELAJAR )


            Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul ( tidak baku ) yang digunakan oleh kalangan pelajar dan sebagian masyarakat Indonesia modern, perlu adanya tindakan nyata dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.

            Berkaitan dengan pemakaian bahasa tidak baku dalam dunia nyata dan fiksi yang menyebabkan interferesi ke dalam bahasa Indonesia dan pergeseran bahasa Indonesia tersebut di atas, ada hal-hal yang perlu dilakukan.
Pertama, menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi penerus bangsa ini (pelajar) bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus kita utamakan penggunaannya. Dengan demikian, mereka lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar daripada bahasa gaul ( tidak baku ). Penyadaran ini dapat dilakukan oleh para orang tua di rumah kepada anak-anak mereka. Dapat pula dilakukan oleh para guru kepada para siswa mereka. Selain itu, pihak pemerintah dapat bertindak secara bijak dalam menyadarkan masyarakat untuk mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di negara kita. Sebagai contoh, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Kebahasaan.
 
Kedua, menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan penggunaan bahasa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan menanamkan semangat tersebut, masyarakat Indonesia akan lebih mengutamakan bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa gaul. Cara menanamkannya dapat dilakukan di rumah, sekolah, dan di masyarakat.

Ketiga, pemerintah Indonesia harus menekankan penggunaan bahasa Indonesia dalam film-film produksi Indonesia. Dengan penggunaan bahasa Indonesia secara benar oleh para pelaku dalam film nasional yang diperankan aktor dan aktris idola masyarakat, masyarakat luas juga akan mengunakan bahasa Indonesia seperti para idola mereka tersebut.

Keempat, meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi. Para siswa dan mahasiswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia dalam bentuk dialog dan monolog pada kegiatan bermain drama, dalam bentuk diskusi kelompok, penulisan artikel dan makalah, dan juga dalam bentuk penulisan sastra seperti cerita pendek dan puisi. Dengan praktik-praktik berbahasa Indonesia tersebut, dapat mengembangkan kreativitas berbahasa Indonesia mereka dan juga dapat membiasakan mereka berbahasa Indonesia secar baik dan benar.
















BAB III
PENUTUP
  1. Simpulan
           Dari pemaparan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan penting terkait dengan kriteria bahasa Indonesia yang baku, dan korelasi antara aktivitas apa saja yang sangat berpengaruh terhadap penurunan ataupun peningkatan minat pelajar menngunakan bahasa Indonesia yang baku.  Secara  terperinci  dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

1.       Kenyataan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat penutur yang berbeda latar belakangnya baik dari segi geografis maupun  dari  segi  sosial  menyebabkan  munculnya berbagai ragam kedaerahan ( bahasa tidak baku )

2.       Bahasa baku adalah bahasa yg dijadikan norma pemakaian bahasa yang benar. Kaidah standar bahasa baku ada tiga yaitu : EYD, Tata Bahasa Baku dan Kamus Umum.

3.       Penggunaan bahasa tidak baku sudah tidak bisa lagi dibendung keberadaannya.  Mulai dari media sebagai tonggak pengarah generasi muda dan masyarakat,  apa yang diungkap media itulah yang akan diikuti masyarakat,

4.       Guna untuk meningkatkan minat berbahasa Indonesia yang baik dan benar (baku) perlu adanya langkah nyata dari berbagai pihak,  mulai dari pemerintah yang harus menegaskan penggunaan bahasa baku di media masa sampai pengajaran - pengajaran ekstra di lembaga - lembaga pendidikan.


  1. Saran
Sebaiknya kita sebagai pelajar (generasi muda), harus membiasakan diri bersosialisasi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (bahasa baku), agar generasi setelah kita tidak terlampau jauh menyimpang dalam bahasa santai (gaul), untuki itu sebaiknya Pemerintah menghimbau kepada para produser film, pengarang buku, media masa dan lain-lain. Agar mau menggunakan bahasa baku yang baik dan benar.
                    






DAFTAR PUSTAKA



www.pusatbahasa.diknas.go.id./laman..., diakses tanggal 18 Januari 2010  pukul  11.00 WIB
Shokodouofsastra.multiply.com , diakses  18 Januari 2010  pukul  11.15  WIB.
Alwi, Hasan, dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.



No comments:

Post a Comment